One Name One Fungi: Tatacara Penamaan Cendawan

No comment 1161 views

Sejumlah cendawan dapat mebentuk spora seksual dan aseksual. Cendawan yang menghasilkan spora seksual disebut teleomorf sedangkan yang menghasilkan spora aseksual disebut anamorf. Sekitar 95 % cendawan anamorf belum diketahui bentuk teleomorfnya dan 5% lainnya diketahui memiliki bentuk anamorf dan teleomorf. Fungi yang bersifat anamorf dapat menghasilkan sejumlah besar spora aseksual dalam waktu yang singkat. Hal tersebut sebabkan ketika fungi membentuk spora aseksual membutuhkan energi yang lebih rendah dibandingkan pada saat memproduksi spora seksual.

Adanya kedua bentuk spora pada cendawan menyebabkan munculnya istilah pleomorfik. Cendawan yang bersifat pleomorfik merupakan cendawan yang memiliki kedua bentuk seksual dan satu atau lebih bentuk aseksual dalam siklus hidupnya. Sifat pleomorfik tersebut menjadi permasalah dalam sistem nomenklatur. Penamaan pada suatu organisme sangat penting karena nama yang akan digunakan pada suatu organisme harus berlaku secara secara umum. Tata nama (nomenklatur) pada fungi menjadi perdebatan pada dunia mikologi sekarang ini. Tujuan dari pemberian nama pada cendawan yaitu untuk mengatur tatanama yang disepakati agar tersedia satu nama yang benar dan disepakati di seluruh dunia.

Permasalah yang terjadi pada dunia mikologi yaitu mengenai perubahan tata nama atau nomenklatur. Adanya cendawan yang bersifat pleomorfik menyebabkan munculnya sistem nomenklatur ganda. Istilah “teleomorf dan anamorf” untuk bentuk-bentuk seksual dan aseksual dan istilah tersebut diterima oleh the Internasiona Code of Botanical Nomenclatur (ICBN) tetapi sejak bulan Juli 2011 telah diubah menjadi International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants (ICN). ICN memiliki tugas untuk mengatur penamaan taksa baru dan penentuan nama yang benar untuk taksa yang telah diberi nama (yang mengalami perubahan).

Pertemuan ICN dilaksanakan di Melbourne pada bulan Juli 2011 yang membahas mengenai penetapan penggunaan bahasa Latin atau Inggris untuk mengesahkan nama cendawan. Penetapan tersebut juga berlaku untuk semua organisme dan mengikuti Code yang ditetapkan mulai dari januari 2012.

Selain itu, pembahasan pada pertemuan di Moibourne juga menetapkan publikasi nama ilmiah cendawan secara elektronik. Selain itu, juga membahas mengenai penyimpanan kunci nomenklatur (tata nama) untuk membuat informasi mengenai suatu penemuan cendawan. Pembahasan selanjutnya mengenai penyimpanan informasi kunci nomenklatur cendawan dilakukan secara online, sebagai syarat wajib untuk publikasi nama ilmiah yang baru. Tujuannya yaitu untuk menyimpan nomenklatur dari cendawan sehingga tidak keluar dari Code atau aturan yang telah ditetapkan. Pemberian nama basyonim juga sesuai dalam ketentuan Code yang ditelah disahkan.

Bacaan lanjutan  Variasi Analisis Dalam Mengungkap Sistematika Bakteri

Basionym merupakan nama pembawa dan sebagian nama yang digunakan dalam kombinasi baru. Nama author yang secara original menamai basionym juga dipertahankan dan diletakkan dalam tanda kurung di depan author yang membuat perubahan. Contohnya terdapat pada (tabel 1) yang menunjukkan nama author dan basionym :

  • Ascorhizoctonia praecos Yang & Korf (Yang & Korf merupakan nama author)
  • Ceratobasidium calosporum D.P. Rogers (D.P. Rogers merupakan nama author yang disingkat).
  • Chrysorhiza zeae (Voorhees) Andersen & Stalpers yang dipindahkan ke dalam genus Rhizoctonia oleh Voorhees menjadi : Rhizoctonia zeae Voorhees, (Phytopathology 24 (1934): 31) yang merupakan nama basionym.

Ketentuan khusus yang ditemukan pada aturan Code awal dalam penamaan cendawan, banyak mengalami perubahan dan menjadi kompleks. Aturan menjadi semakin kompleks pada pertengahan tahun 1970-an karena pendapat dari mikologist yang saling berbeda. Setelah rapat intensif International Mycological Association (IMA) yang dilakukan di Sydney pada tahun 1981 terjadi perubahan drastis yang memperjelas dan menyederhanakan prosedur penamaan cendawan. Hal demikian mengakibatkan adanya istilah anamorf, teleomorf, dan holomorf masuk dalam penggunaan yang umum. Pertemuan ICN yang dilaksanakan di Melbourne telah menghentikan penggunaan sistem dua nomenklatur (nomenklatur ganda) sehingga meluncurkan istilah ‘satu fungi, satu nama’. Sistem dua nomenklatur (nomenklatur ganda) pada fungi pleomorfik tidak dilanjutkan lagi.

Nama cendawan dibawah kode revisi dapat berlaku jika spesies tersebut telah memiliki nama yang lama (nama tetua). Namun, telah direview oleh bagian Komite dari ICN yang ditugaskan untuk memilih dan melindungi atau menolak nama-nama pada taksa fungi serta memodifikasinya. Pusat Komite dari ICN memiliki kewenangan untuk menyetujui daftar nama, yang mungkin akan dihasilkan oleh komite dari mycologis yang memiliki pengetahuan yang khusus mengenai kelompok taksonomi. Namun, mycologis telah mempertahankan hak untuk mengajukan banding keputusan apapun tentang nama melalui proses penetapan konservasi untuk nama cendawan.

Bacaan lanjutan  Bakteri Ini Dinamai Karakter Penting di Star Wars

Sesuai dengan ketentuan dalam aturan tata nama International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants (ICN) di Melbourne, maka sejak 1 Januari 2013 cendawan dibolehkan mempunyai hanya satu nama yang berlaku sehingga mengakhiri perdebatan panjang mengenai pengecualian pembolehan penggunaan dua nama ilmiah yang berlaku untuk satu satuan taksonomik. Masih ada cendawan yang bersifat pleomorfik yang belum ditentukan nama ilmiah mana yang berlaku. Hasil dari pertemuan tersebut juga mengeluarkan pernyataan bahwa nama anamorf dan teleomorf masih dapat digunakan dengan beberapa persyaratan.

Terdapat cendawan yang bersifat pleomorfik dan salah satu contohnya adalah Rhizoctonia. Genus dari Rhizoctonia dikenal sebagai kelompok cendawan yang heterogen, berfilamen dan umumnya termasuk dalam anamorf. Kelompok dari Rhizoctonia umumnya terdapat di tanah dan sebagian besar berasosiasi dengan akar, bersifat patogen, saprofit serta ada dapat bersimbiosis. Bentuk cendawan dalam genus ini tersebar di seluruh dunia pada tanah pertanian dan termasuk beberapa patogen pada tanaman, menyebabkan daun dan akar membusuk. Berdasarkan tabel berikut terdapat nama anamorf dan nama teleomorf dari Rhizoctonia

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan fungi pleomorfik yang memiliki nama anamorf yaitu Rhizoctonia sedangkan nama teleomorfnya adalah Thanatephorus dengan Ceratobasidium. Hasil dari kongres ICN di Melbourne terdapat pernyataan mengenai “satu fungi, satu nama”. Hal tersebut memungkinkan bahwa nama anamorf dan teleomorf dari taksa fungi tersebut akan dihilangkan. Pernyataan tersebut menjadi kontradiksi dalam sistem nomenklatur karena terdapat cendawan yang memiliki nama anamorf dan teleomorf.

Nama teleomorf masih tetap bisa digunakan (conserved) jika memenuhi persyaratan berikut:
  1. Memiliki google rate yang tinggi, tingginya angka google rate menginterpretasikan masih banyaknya orang-orang yang menggunakan, mencari, dan memerlukan nama cendawan tersebut. Banyaknya orang yang mencari nama tersebut, dapat dijadikan pertimbangan untuk memvalidasi nama cendawan tersebut.
  2. Followers (pengikut), maksudnya ialah banyaknya para akademisi yang mengikuti perkembangan cendawan tersebut. Hal ini akan berbanding lurus dengan angka google rate yang diperoleh.
  3. First publish, hal ini berkaitan dengan publikasi yang pertama kali muncul mengenai nama cendawan yang besangkutan. Jika ditemukan dua jurnal yang membahas mengenai penamaan cendawan yang sama, maka yang dilihat adalah tanggal penerimaan publikasi tersebut.
Bacaan lanjutan  Kajian Filogeni Dan Morfologi Dua Spesies Baru Anthracoidea Caricis-Meadii Dan Anthracoidea Pamiroalaica

DAFTAR PUSTAKA

Garcia VG, Portal O, Rubio S. 2006. Review. Biology and Systematics of the Form Genus Rhizoctonia. Spanish Journal of Agricultural Research. 4(1): 55-79.

Hawksworth DL. 2011. A New Dawn for the Naming of Fungi: Impacts of Decisions Made in Melbourne in July 2011 on the Future Publication and Regulation of Fungal Names. Mycokeys Journal. 1: 55-79

 

Disclaimer

Artikel ini adalah artikel yang ditulis oleh Rudy Hermawan dan kawan-kawan untuk tugas matakuliah Sistematika Mikrob
author
Author: 
Laila Karomah yang lebih sering berpetualang di dunia maya sebagai evilgenius, merupakan mahasiswi Mikrobiologi Institut Pertanian Bogor. Bidang yang digemari oleh pegiat IT otodidak ini adalah mikrobiologi kesehatan, mikrobiologi lingkungan, bioteknologi mikrob, dan enzimologi.

Leave a reply "One Name One Fungi: Tatacara Penamaan Cendawan"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.