Mikrob Patogen Pada Komodo

No comment 1451 views

Pengertian Interaksi Mikroorganisme dan Makhluk Hidup

Mikrob adalah mikroorganisme hidup yang berukuran sangat kecil dan hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroorganisme tersusun atas satu sel (uniseluler) dan juga ada yang tesusun atas beberapa sel (multiseluler).
 
Walaupun mikroorganisme uniseluler hanya tersusun atas satu sel, namun mikroorganisme tersebut menunjukkan semua karakteristik organisme hidup, yaitu bermetabolisme, bereproduksi, berdiferensiasi, melakukan komunikasi, melakukan pergerakan dan berevolusi.
mikrobioma
 
Organisme yang termasuk ke dalam golongan mikrob adalah bakteri, archaea, fungi (kapang dan khamir), protozoa, alga mikroskopik, dan virus. Virus, bakteri, dan archaea termasuk ke dalam golongan prokariot, sedangkan fungi, protozoa, alga mikroskopik termasuk ke dalam golongan eukariot.
 
Mikrob hidupnya cosmopolitan artinya terdapat di mana-mana, baik di udara, tanah, air, makanan, minuman ataupun lainnya. Interaksinya baik sesama mikrob ataupun dengan organisme lain dapat berlangsung dengan cara aman, dan menguntungkan, maupun merugikan. Secara umum interaksi antar organisme atau yang dikenal dengan istilah simbiosis terbagi menjadi 3 yaitu simbiosis mutualisme, parasitisme dan netralisme.
Mutualisme adalah interaksi yang saling menguntungkan untuk tiap organisme yang melakukan interaksi. Parasitisme adalah interaksi yang salah satu organisme terlibat mengalami kerugian sedangkan yang lainnya mendapatkan keuntungan. Sedangkan netralisme adalah simbiosis yang tidak menyebabkan salah satu dari tiap organisme terkait tidak mengalami keuntungan ataupun tidak kerugian, tetapi mereka saling berinteraksi.
 
Mikrob cenderung diasumsikan dengan penyakit-penyakit infeksi ataupun pembusukan makanan. Bahkan kadang terasumsikan bahwa mikrob selalu terkait dengan simbiosis parasitisme. Padahal mayoritas mikrob justru memberikan kontribusi bagi keseimbangan ekosistem lingkungan hidup, khususnya bagi kesejahteraan manusia. Hal tersebut karena mikrob selalu berada dimana saja sehingga mampu membantu dan mendegradasi bahan-bahan tertentu di alam.
 
Keberadaan mikrob di alam juga dapat diindikasikan bersifat indigenous untuk tempat tertentu saja. Mikrob yang indigenous memiliki kekhasan pada karakter-karakternya. Karakter tersebut terbentuk karena adanya pola adaptasi, seperti perubahan morfologi, fisiologi, biologis, ekologis dan molekuler. Mikrob indigenous dapat ditemukan pada lingkungan yang spesifik, seperti pada lingkungan ekstrim. Maka, kondisi lingkungan dapat menjadi suatu faktor pembatas bagi semua mikrob.
 
Kondisi lingkungan tertentu secara keseluruhan akan membatasi fisiologi mikrob terutama pertumbuhan dan perkembangan mikrob tersebut. Upaya mikrob dalam mengatasi faktor pembatas tersebut adalah dengan melakukan interkasi lannya terhadap beberapa faktor pendukung lainnya. Faktor lainnya tersebut adalah faktor interaksi sesama atau antar mikrob dan interaksi mikrob dengan hostnya.
 
Mikrob saling berinteraksi dengan beberapa mikrob lainnya di dalam lingkungan bebas. Hal ini karena sebagian besar mikrob ditemukan di alam tidak dalam bentuk tunggal, tetapi dalambentuk populasi maupun komunitas. Interaksi yang dilakaukan berupaya untuk saling mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka. Interaksi ini menyebabkan terbentuknya suatu komunitas seperti biofilm, kemudian juga ada istilah konsorsium dan sebagainya.
 

Mikrob Patogen Pada Komodo Membantu Komodo Berburu

 
Faktor lainnya dalam interaksi adalah faktor interaksi terhadap tipe host yang spesifik. Pada paper ini, penulis akan membahas mengenai keberadaan mikrob indigenous serta interaksinya terhadap host purbakala. Host purbakala yang saat ini masih ada (lestari) adalah Komodo. Komodo, atau yang disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Komodo oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora. Komodo termasuk dalam anggota famili Varanidae, dan clade dari Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m.
 
Info lanjut Komodo: Komodo Dragon Natgeo Wild
Pada akhir 2005, peneliti dari Universitas Melbourne, Australia, menyimpulkan bahwa biawak Perentie (Varanus giganteus) memiliki bisa / zat beracun. Selama ini diketahui bahwa luka-luka akibat gigitan hewan-hewan ini sangat rawan infeksi karena adanya bakteri patogen yang hidup di mulut kadal ini. Para peneliti ini meneliti lebih lanjut tentang kebiasaan komodo dalam predasi atau perilaku memangsa hewan lain.
 
Pada mulut dan liur komodo, banyak ditemukan mikrob patogen yang dapat meracuni mangsa yang tergigit hewan purba ini
 
Komodo memberikan efek langsung pada saat luka-luka gigitan yang diberikan kepada mangsanya. Hal ini menyebabkan masuknya racun berkekuatan menengah ke dalam jaringan dan sel mangsanya. Sehingga seketika mangsanya langsung kaku dan tidak bergerak. Banyak beredar kasus bahwa adanya warga asal daerah tersebut tergigit komodo. 
 
Para peneliti telah mengamati luka-luka di tangan manusia akibat gigitan komodo, dan semuanya memperlihatkan reaksi yang serupa: bengkak secara cepat dalam beberapa menit, gangguan lokal dalam pembekuan darah, rasa sakit yang mencekam hingga ke siku, dengan beberapa gejala yang bertahan hingga beberapa jam kemudian.
 
Cairan liur yang berisi racun telah berhasil diambil dari mulut seekor komodo di Kebun Binatang Singapura, dan meyakinkan para peneliti akan kandungan racun yang dimiliki komodo. Di samping mengandung racun, ternyata air liur komodo juga memiliki aneka bakteri mematikan di dalamnya; lebih dari 28 bakteri Gram-negatif dan 29 Gram-positif telah diisolasi dari air liur ini. Bakteri-bakteri tersebut menyebabkan septikemia pada korbannya. Jika gigitan komodo tidak langsung membunuh mangsa dan mangsa itu dapat melarikan diri, umumnya mangsa yang dilukai komodo ini akan mati dalam waktu satu minggu akibat infeksi. Bakteri yang paling mematikan di air liur komodo agaknya adalah bakteri Pasteurella multocida yang sangat mematikan; diketahui melalui percobaan dengan tikus laboratorium. 
 
 
Keberadaan mikrobium berupa lebih dari 28 bakteri Gram-negatif dan 29 Gram-positif telah menunjukan bahwa adanya mikrob indigenous dalam organ mulut komodo. Terkenalnya daerah mikrobium pada komodo yaitu pada air liur bagian mulut. Bermacam mikrob ditemukan pada air liur komodo. Hal ini mengartikan bahwa terdapat ketergantungan mikrob-mikrob dalam simbiosis dengan komodo.
 
Mikrobium yang terisolasi dari air liur komodo mengindikasikan bahwa mayoritas merupakan bakteri patogen. Bakteri ini membantu komodo dalam melumpuhkan mangsanya untuk komodo bertahan hidup. Setelah mangsanya dilukai dan terinfeksi bakteri mematikan ini, maka komodo langsung mencabik-cabik mangsa dan menelan mangsa. 
 
Ada hal yang menarik dari proses predasi komodo ini. Saat memakan mangsa yang telah terinfeksi racun dari mikrob patogen, mengapa komodo masih bisa hidup atau mengapa komodo dapat bertahan dari bakteri patogen mematikan tersebut. Ada juga hal menarik mengenai bagaimana perlindungan organ pencernaan komodo yang dalam kesehariannya terpapar oleh aktivitas mikrob patogen mematikan tersebut (racun mematikan). 
 
Sebagian peneliti yang berpendapat, bahwasanya kegiatan mikrob di dalam organ pencernaan (mulut lewat air liurnya) menjadi nonaktif. Sedangkan beberapa peneliti lain berpendapat bahwa hal tersebut dikarenakan struktur dinding organ pencernaan komodo telah termodifikasi menjadi struktur yang tahan akan aktivitas mikrob patogen tersebut. Kemudian beberapa penelitian terkini dari bidang kadal, menyatakan dalam system pencernaan kadal terdapat suatu senyawa yang mampu membuat penawar racun hasil mikrob pathogen tersebut. Saat ini senyawa tersebut telah dikarakterisasikan dan dibuatsebagai penawar racun jika terdapat manusia terluka akibat gigitan komodo.
 
 
Keberadaan hewan indigenous purbakala ini mengartikan bahwa mikrob yang berada pada komodo mendapat keuntungan yakni kemampuan bertahan hidup (lestari) pada kondisi lingkungan ekstrim mengikuti jalur / zaman evolusi dari komodo (hostnya). Kecocokan antara host dan mikrobium belum tentu bisa disamakan dengan kadal-kadal lainnya (selain komodo). Kespesifikan dari host merupakan faktor penting juga dalam mikrobium berinteraksi di dalam sistemnya. 
 
 
Interaksi yang dilakukan antara komodo dan mikrobiumnya adalah bersifat mutualisme. Sifat mutualisme berkaitan dengan keberadaan mikrob patogen bertahan akn faktor lingkungan luar. Mikrobium mendapat tampat bertahan dan berkembang dalam organ pencernaan komodo. Sedangkan komodo mendapatkan keuntungan dengan keberadaan mikrobiumnya mampu menjadi pertahanan utama dan membantu melumpuhkan mangsanya.
 

Daftar Pustaka

Bennett, Daniel. 1995. A little book of monitor lizards. Viver Press, Great Britain.

Bacaan lanjutan  Mikrobiologi Air Minum Kemasan: Kasus Cemaran Bakteri AMK Kanada

Disclaimer

Artikel Adalah Karya Ilmiah Milik Rudy Hermawan, Kontributor Master Mikrobiologi
 
author
Author: 
Laila Karomah yang lebih sering berpetualang di dunia maya sebagai evilgenius, merupakan mahasiswi Mikrobiologi Institut Pertanian Bogor. Bidang yang digemari oleh pegiat IT otodidak ini adalah mikrobiologi kesehatan, mikrobiologi lingkungan, bioteknologi mikrob, dan enzimologi.

Leave a reply "Mikrob Patogen Pada Komodo"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.