S-layer pada Bakteri Patogen dan Ketahanan Terhadap Imunitas


Bakteri patogen harus mampu bertahan terhadap sistem imun dari inangnya. Beberapa strategi digunakan oleh bakteri termasuk dengan menggunakan S-layer, lapisan protein yang melingkupi bakteri Gram positif dan Gram negatif serta beberapa jenis Archaea.
 
Bakteri Campylobacter memiliki S-layer yang mampu mencegah aglutinasi sel Campylobacter dengan antiserum O karena memiliki antigen pada permukaan S-layernya. Hal tersebut terjadi karena antigen pada S-layer Campylobacter mampu menurunkan kemampuan antibodi mengenali epitope antigen LPS O pada Campylobacter yang dibutuhkan untuk menginisiasi aglutinasi.
 
Terdapat kurang lebih empat protein dengan variasi berat molekul (135,000, 130,000 to 133,000, 110,000, dan 85,000) yang bertanggung jawab terhadap mekanisme tersebut. Tiga diantara keempat molekul tersebut memiliki sifat antigen yang berbeda,tiga jenis protein S-layer tersebut berlawanan dengan protein VC119, jenis berikutnya berlawanan dengan protein 84-40 LP, serta kedua protein tersebut. Sedangkan jenis protein terakhir tidak bereaksi terbalik dengan keduanya. Reaksi terbalik oleh ketiga protein S-layer tersebut mengakibatkan S-layer tidak dikenali oleh sistem imun secara morfologi.
 

C. fetus adalah patogen pada hewan ungulata dan bersifat imunokompresif terhadap manusia. C.fetus mengakibatkan penyakit disseminated bloodstream disease. Pada bakteri tersebut, dibutuhkan S-layer untuk diseminasi dan berperan dalam dua mekanisme ketahanan terhadap sistem imun inang (evation). 
 
Mekanisme pertama pada dua mekanisme tersebut, S-layer berperan dalam ketahanan terhadap  mekanisme pembunuhan termediasi komplemen oleh serum non-imun dengan mencegah pengikatan faktor komplemen faktor C3b pada permukaan sel C.fetus. Strain C. fetus yang mengekspresikan S-surface tetap rentan terhadap mekanisme pembunuhan patogen termediasi komplemen tersebut, dengan menggunakan antibodi opsonik yang diarahkan untuk menghadapi S-layer. Untuk menghadapi hal tersebut, C. fetus telah mengembangkan mekanisme untuk menghindari pembunuhan yang dimediasi oleh antibodi dengan memperbanyak frekuensi variasi dari SLP.
Variasi antigen tersebut dihasilkan dari inversi kompleks DNA yang melibatkan sekelompok gen pengkode SLP dan sebuah promoter SLP. Hasil inversi tersebut mengakibatkan S-layer memiliki antigen yang bervariasi. Keragaman antigen yang menyebabkan respon antibodi berbeda pada proses pembunuhan C. rectus. Faktor tersebut diimplikasikan dengan patogenisitas pada penyakit periodontal dan menunjukkan bahwa S-layer berperan dalam menghindari sistem imun inangnya. 
 
Meski demikian, penelitian menemukan bahwa peranan S-layer C. fetus lebih sempit dari pada C. rectus dalam resistensi bakteri tersebut terhadap mekanisme pembunuhan termediasi komplemen dan penyebab terjadinya regulasi penurunan sitokin proinflamatori.

Bacaan lanjutan  Quorum Sensing - Mekanisme dan Contoh Quorum Sensing Pada Bakteri

Sumber Pustaka

Claus H, Akça E, Debaerdemaeker T, Evrard C, Declercq JP, Harris JR, Schlott B, König H. 2004. Can J Microbiol. 2005 Sep;51(9):731-43.
 
Fagan, RP, Fairweather, NF. 2014. Biogenesis and functions of bacterial S-layers. Nat Rev Microbiol. 2014 Mar;12(3):211-22. doi: 10.1038/nrmicro3213.

Incoming search terms:

  • bidan bikrobiologi bakteri patogen dan tidak patogen pada hewan
  • fungsi s layer
  • Patogen pada body fluid mikrobiologi
author
Author: 
Laila Karomah yang lebih sering berpetualang di dunia maya sebagai evilgenius, merupakan mahasiswi Mikrobiologi Institut Pertanian Bogor. Bidang yang digemari oleh pegiat IT otodidak ini adalah mikrobiologi kesehatan, mikrobiologi lingkungan, bioteknologi mikrob, dan enzimologi.
  1. Cara Mencegah Bakteri Patogen Dengan Quorum Quenching - Master Mikrobiologi2 years ago

    […] pihak. Hingga salah satu alasan mengapa mikrobiologi berkembang pesar adalah mencari cara mencegah bakteri patogen menimbulkan kerugian besar bagi kehidupan […]

    Reply

Leave a reply "S-layer pada Bakteri Patogen dan Ketahanan Terhadap Imunitas"